1 Juli 2020

Syech Maulana Ibrohim Asmoro Qondi


syech-maulana-ibrohim-asmoro-qondi-tuban-jawa-timur

Selain Sunan Bonang, salah satu destinasi ziarah di Kabupaten Tuban adalah makam Syech Maulana Ibrohim Asmoro Qondi atau Assamarkandy, sebuah lakob yang merujuk pada nama Samarkand, sebuah daerah di Uzbekistan.

Beliau adalah ayah dari Sunan Ampel (atau Raden Rahmat dimakamkan di Ampel, Surabaya). Syech Maulana Ibrohim Asmoro Qondi sendiri putra dari Syech Jumadil Kubro, guru dan sesepuh nasab para wali (makamnya masyhur di Trowulan, Mojokerto).

Berbeda dengan makam Sunan Bonang yang agak ke tengah selatan kota Tuban, lokasi makam Syech Maulana Ibrohim Asmoro Qondi sangat dekat dengan pesisir utara. Bahkan, pertama kali ke area ini, parkir kendaraan kami di depan area wisata Pantai Boom. (Bhy)




28 Juni 2020

Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo, Jawa Timur


masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo merupakan salah satu masjid persinggahan yang cukup berkesan.

Sudah dua kali kami singgah di masjid ini. Biasanya setelah ziarah dari Habib Ali bin Umar Bafaqih di Negara, Bali. Dari arah Banyuwangi menuju Situbondo, masjid ini terletak di kiri jalan.

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

masjid-baiturrahim-wongsorejo

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo-jawa-timur

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

Namun sayang, detail lebih lanjut mengenai Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo luput dari rekaman memori saya. Yang masih saya ingat cuma dua hal.

Pertama, keramahan warga sekitar dan DKM. Untuk mereka yang ngantuk, disediakan tempat istirahat di lantai dua, lengkap ada bantal dan karpet.

Kedua, di Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo ini terdapat satu sudut ruang di beranda depan. Ruangan terbuka yang terisi meja. Di atasnya ada dispenser yang mengeluarkan air dengan suhu panas dan normal; serta sebuah etalase dua tingkat berukuran sekitar 50 x 100 cm.

Di tingkat dasar etalase itu terdapat tiga toples ukuran sedang. Masing-masing berisi kopi bubuk, gula pasir, dan teh celup. Ada pula wadah tempat menyimpan sendok. Di tingkat dua etalase ada rencengan gelas plastik, dan beberapa baris gelas beling bening.

Di dinding ruang terbuka itu ditempeli tulisan tangan menggunakan spidol yang permukaan kertasnya di laminating glossy: "Gratis".

Ah... Sungguh sebuah pemandangan langka: singgah di sebuah masjid untuk sholat dan istirahat sambil disuguhi minuman pelepas penat: teh hangat dan kopi panas. Semuanya gratis.

Mau minum bergelas-gelas pun -bila kantuk dan penat setelah perjalanan seharian belum hilang- silakan saja. Seperti yang saya jumpai kala itu. Beberapa orang yang singgah, berkali-kali mengisi ulang gelasnya. Ada pula yang menyimpan sebagai bekal di perjalanan.

Saya lantas teringat masjid Ibn Baz di Distrik Aziziah, Makkah. Saat musim haji 2015 lalu, di masjid itulah saya biasa sholat berjamaah bila tak ke Masjidil Haram.

Masjid Ibn Baz yang terletak tak jauh dari maktab jamaah haji asal Iran, menyediakan dua lemari pendingan ukuran besar di sudut kiri dan kanan pintu masuk utama masjid.

Lemari pendingin berisi botol air mineral ukuran 600 ml. Di pekan-pekan awal musim haji, saat kloter kami baru tiba dari Madinah, lemari pendingin itu selalu terisi penuh. Plus beberapa kardus kurma. Semuanya gratis.

Seandainya semua masjid di pelosok bumi ini bisa demikian. Terutama masjid-masjid besar. Ia mampu menjadi "telaga" yang betul-betul menghilangkan dahaga hamba-Nya. Dahaga lahir dan batin. (Bhy)

27 Juni 2020

Berbecak Ria Menuju Makam Sunan Bonang


Naik-becak-di-makam-sunan-bonang-tuban

Pagi itu -sekira pukul 07.40 WIB, Rabu 20 November 2019- kami telah bersiap menuju destinasi ke-9 dalam perjalanan wisata ziarah Jawa-Madura-Bali. Lokasi ziarah kesembilan itu adalah makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Lokasi makam Sunan Bonang dan parkir kendaraan berjarak kurang lebih satu setengah kilometer. Untuk menuju makam hanya tersedia moda transportasi otot alias becak. Jamaah diberi keleluasaan memilih berjalan kaki atau naik becak. Tak ada paksaan.

Karena jarak yang tak seberapa jauh, tetapi juga cukup jauh untuk dibilang dekat, nanggung, kami pilih naik becak. Hitung-hitung menikmati udara dan suasana pagi Kota Tuban yang asri, juga berbagi rezeki ke bapak pengayuh becak.

Selain asri, kota Tuban juga ternyata tertib. Selama perjalanan kami tak mendengar raungan klakson sepeda motor atau mobil, padahal becak yang kami tumpangi berbagi jalan yang sama. Dan pagi itu, suasana jalan cukup ramai. Semua berjalan beriringan. Saling memberi kesempatan.

Saat tiba di sebuah perempatan misalnya. Rombongan becak jamaah pun ikut berhenti. Antre dengan tertib di bagian depan. Ketika lampu pengatur lalu lintas menyala hijau, sepeda motor dan mobil yang berbaris di belakang becak memberi kesempatan. Mereka menunggu hingga jalan cukup lengang, baru kemudian mendahului rombongan becak kami.

"Apa setiap saat suasana lalu lintas di sini selalu tertib, pak?" tanya saya pada bapak pengayuh becak.

"Iya, pak kaji. Di sini memang gitu. Tertib," jawab beliau.

Obrolan kemudian berlanjut, bahwa memang ada semacam peraturan tak tertulis bilamana melintas becak yang membawa rombongan peziarah harus didahulukan.

Keberadaan becak sebagai moda transportasi dari dan ke area makam pun dikoordinir oleh organisasi Paguyuban Becak Sunan Bonang. Jadi, tak hanya tertib, tapi juga aman, karena bila ada apa-apa mudah mengidentifikasi persoalan bila teroganisir dengan baik.

paguyuban-becak-sunan-bonang

Misalnya, kita ketinggalan barang, tinggal dicatat nomor becak dan pengayuhnya. Di lokasi tempat mangkal becak pun terdapat semacam kantor sekretariat paguyuban. Bisa dijadikan tempat melapor.

Waktu itu, ongkos untuk single trip sebesar sepuluh ribu rupiah. Kenapa single trip? Kenapa tidak langsung ditentukan ongkos pulang-pergi, seperti di beberapa destinasi lain?

Barangkali karena di sekitar area makam terdapat banyak toko makanan, minuman, dan aneka oleh-oleh. Dan biasanya usai berziarah, jamaah ada yang mampir ke toko-toko tersebut. Jadi, bila ditentukan ongkos PP, bapak pengayuh becak akan lama menunggu, jamaah pun akan tak nyaman karena merasa diburu-buru. Ini hanya asumsi saya, lho. 🤗

Dan pagi itu, selesai berziarah kami menyempatkan mencicipi makanan khas Tuban, salah satu kota di pesisir utara Jawa Timur, yakni belut goreng dan kare rajungan. Sayangnya tak sempat difoto. Lowbatt. 😏 (Bhy)



22 Juni 2020

Doa Itu Senjata dan Pembuka Tabir


Menara Kudus

Ini adalah kali ketiga keluarga Asbhy turut dalam Wisata Ziarah Walisongo Jawa-Madura-Bali selama kurang lebih 8 hari 8 malam.

Bersama rombongan Majlis Ta'lim Miftahul Ulum, Cadas, Kab. Tangerang pimpinan Abah Ustadz Yusuf.

Seperti biasa, berangkat Ahad pagi di titik kumpul Masjid Jami Attaqwa, Cadas. Jamaah kemudian melakukan sholat sunnah tahiyyatul masjid dan safar, membaca dzikir sebelum safar, adzan dan iqomah. Dan sambil bersholawat, berangkatlah kita.

Sungguh sebuah perjalanan penuh hikmah. Diawali hikmah, diisi hikmah, dan diakhiri oleh hikmah. Bukan perjalanan wisata biasa.

Di awal perjalanan kita telah diingatkan melalui dzikir sebelum safar, tentang betapa lemahnya manusia. Betapa rentannya hidup kita.

Menempuh perjalanan sejauh dan selama itu, kita tidak pernah tahu apa yang menanti dalam perjalanan. Seluruh persiapan mungkin telah sangat matang diperhitungkan. Beragam bekal kita siapkan. Tapi siapa yang mampu menjamin segalanya akan sesuai rencana.

Pada titik itulah doa-doa yang dipanjatkan menemukan urgensinya. Melalui ritual yang khas, ia menanamkan sugesti agar selalu waspada, eling selama perjalanan, tak mudah terbawa suasana.

Tak hanya sugesti, ia juga memberikan kekuatan. Doa yang dipanjatkan secara tulus akan mengupas banyak tabir. Salah satunya adalah tabir ego, bahwa ternyata di luar semua rencana yang dianggap telah matang, ada hal-hal yang bisa jadi di luar kendali. Mengingatkan bahwa sesekali kita mesti pasrah. Dan percayalah, ketika kita berlaku pasrah, kekuatan yang tak diduga-duga justru hadir. Inilah yang saya maksud doa mengupas tabir ego, bahwa, ada Yang Maha Memegang Kendali yang akan hadir di saat kita memasrahkan diri ke hadirat-Nya.

Bahkan, seorang mu'min hakiki menganggap doa adalah senjata. Bukan karena ia malas berusaha, tetapi karena ia telah merasakan Sang Maha Segalanya selalu hadir tiap kali doa-doa ia panjatkan. Di mana saja, kapan saja. Saat ia diam, juga saat ia dalam perjalanan. (Bhy)