28 Juni 2020

Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo, Jawa Timur


masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo merupakan salah satu masjid persinggahan yang cukup berkesan.

Sudah dua kali kami singgah di masjid ini. Biasanya setelah ziarah dari Habib Ali bin Umar Bafaqih di Negara, Bali. Dari arah Banyuwangi menuju Situbondo, masjid ini terletak di kiri jalan.

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

masjid-baiturrahim-wongsorejo

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo-jawa-timur

masjid-besar-baiturrahim-wongsorejo

Namun sayang, detail lebih lanjut mengenai Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo luput dari rekaman memori saya. Yang masih saya ingat cuma dua hal.

Pertama, keramahan warga sekitar dan DKM. Untuk mereka yang ngantuk, disediakan tempat istirahat di lantai dua, lengkap ada bantal dan karpet.

Kedua, di Masjid Besar Baiturrahim Wongsorejo ini terdapat satu sudut ruang di beranda depan. Ruangan terbuka yang terisi meja. Di atasnya ada dispenser yang mengeluarkan air dengan suhu panas dan normal; serta sebuah etalase dua tingkat berukuran sekitar 50 x 100 cm.

Di tingkat dasar etalase itu terdapat tiga toples ukuran sedang. Masing-masing berisi kopi bubuk, gula pasir, dan teh celup. Ada pula wadah tempat menyimpan sendok. Di tingkat dua etalase ada rencengan gelas plastik, dan beberapa baris gelas beling bening.

Di dinding ruang terbuka itu ditempeli tulisan tangan menggunakan spidol yang permukaan kertasnya di laminating glossy: "Gratis".

Ah... Sungguh sebuah pemandangan langka: singgah di sebuah masjid untuk sholat dan istirahat sambil disuguhi minuman pelepas penat: teh hangat dan kopi panas. Semuanya gratis.

Mau minum bergelas-gelas pun -bila kantuk dan penat setelah perjalanan seharian belum hilang- silakan saja. Seperti yang saya jumpai kala itu. Beberapa orang yang singgah, berkali-kali mengisi ulang gelasnya. Ada pula yang menyimpan sebagai bekal di perjalanan.

Saya lantas teringat masjid Ibn Baz di Distrik Aziziah, Makkah. Saat musim haji 2015 lalu, di masjid itulah saya biasa sholat berjamaah bila tak ke Masjidil Haram.

Masjid Ibn Baz yang terletak tak jauh dari maktab jamaah haji asal Iran, menyediakan dua lemari pendingan ukuran besar di sudut kiri dan kanan pintu masuk utama masjid.

Lemari pendingin berisi botol air mineral ukuran 600 ml. Di pekan-pekan awal musim haji, saat kloter kami baru tiba dari Madinah, lemari pendingin itu selalu terisi penuh. Plus beberapa kardus kurma. Semuanya gratis.

Seandainya semua masjid di pelosok bumi ini bisa demikian. Terutama masjid-masjid besar. Ia mampu menjadi "telaga" yang betul-betul menghilangkan dahaga hamba-Nya. Dahaga lahir dan batin. (Bhy)

25 Juni 2020

Metamorfosis Masjid Al Barkah Pinayungan


Masjid Al Barkah Pinayungan

View Masjid Al Barkah, Pinayungan, sore hari menjelang maghrib. Desain dan perpaduan warna yang tampak modis, lembut dan modern.

Menurut info grafis yang dibagikan di laman facebook salah seorang pengurus dan panitia pembangunan Masjid Al Barkah, Bpk. M. Yusup Setiawan, tertulis bahwa pada tahun 1966 bangunan Masjid Al Barkah seluas 6 x 8 m² (48 m²) bertempat di lahan milik (alm) H. Asta, lokasi yang saat ini terletak toko "Idol Mart".

Kemudian pada tahun 1969, bangunan Masjid Al Barkah pindah ke tanah milik (alm) H. Amo Sukatma dengan luas tanah 279 m², luas bangunan 8 x 10 m².

Pada tahun 1984, seluruh bangunan lama dibongkar untuk dibangun kembali dengan ukuran 10 x 10 m² di atas tanah wakaf seluas 536 m², wakaf dari (alm) H. Amo Sukatma (279 m²) dan (alm) H. Ahmad Kasum (257 m²).

Tahun 1996 kembali dilakukan pemugaran/pembongkaran bangunan Masjid Al Barkah dan dibangun kembali secara permanen dengan konstruksi beton (seperti sekarang) dengan ukuran bangunan 11 x 11 m² dan luas tempat ibadah 208 m².

Dikarenakan jumlah jamaah terus bertambah, pada tahun 2006 dibangun lantai 2 dari konstruksi baja (H Beam) dengan lantai kayu/papan.

Di tahun 2018 rencana pembangunan renovasi Masjid Al Barkah untuk perluasan tempat ibadah dengan pertimbangan: (1) tidak tertampungnya jamaah yang setiap hari semakin bertambah; dan (2) bangunan fisik sudah dimakan usia, sekitar 23 tahun dan banyak material yang sudah rusak.











Dan alhamdulillah, akhirnya di tahun 2020 ini rencana itu terwujud. Kini Masjid Al Barkah Pinayungan telah berdiri kokoh dan menjadi masjid ikonik dalam pandangan saya. (Bhy)

*Sebagian sumber foto didownload dari laman facebook Bpk. M. Yusup Setiawan